Patahkan 6 Hambatan untuk Memulai Usaha
Banyak karyawan membenci pekerjaan mereka dan diam-diam ingin memulai usaha, mungkin termasuk Anda juga. Jika Anda memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha saat ini, Anda akan memiliki kekayaan pengetahuan, berbagai sumber dukungan dan biaya startup yang rendah.
Terkadang ketika Anda memutuskan menjadi seorang pengusaha, banyak hambatan yang membelenggu Anda, membuat Anda menjadi tidak bersemangat lagi.
Patahkan hambatan-hambatan tersebut dan teruslah bersemangat untuk memulai usaha.
Hambatan Pertama : Tidak Memiliki Modal
Memiliki cukup uang untuk memulai bisnis diklaim oleh banyak pengusaha
Kenyataannya banyak perusahaan besar sekarang berawal dari modal yang kecil. Anda pasti sudah mendengar cerita bagaimana amazon.com didirikan, facebook.com diciptakan. Cerita bagaimana Bill Gates memulai mendirikan Microsoft. Atau Steve Jobs dengan Apple nya.
Lupakan kantor mewah, kursi CEO yang wah, atau glossy brosur empat warna. Jangan memulai usaha kecil dengan mengeluarkan modal yang besar. Mulailah dari sesuatu yang kecil, biarkan usaha tersebut berkembang perlahan menjadi besar.
Simaklah cerita dari beberapa pengusaha Indonesia yang memulai usaha bahkan nyaris tanpa modal berikut ini.
Agus ( Dikutip dari Milist Pengusaha Muslim )
Saya cuman mengingat-ingat kembali masa lalu ketika memulai usaha kecil-kecilan, Alhamdulillah bisnis bisa dimulai nyaris tanpa modal sendiri, berkat netwok/jaringan kerja yang sudah saling kenal dan saling percaya, dan dukungan teman-teman seprofesi.
Saya ambil dan jual barang tidak perlu membayar cash alias saya dapat payment term dari supplier yang sudah kenal lama dan saya jual cash on delivery.
Pengiriman barang, Alhamdulillah dapat antaran gratis berkat bantuan temen bila ada rute ke area tersebut.
Nah hal diatas tersebut bisa saya bilang tanpa modal.
Tapi bagaimana dengan marketing/pemasarannya?
Berhubung waktu itu jaringan internet tidak semudah seperti sekarang ini, setiap hari saya ke warnet untuk selalu meng-update produk-produk yang akan saya jual, sekaligus mengurusi surat menyurat via email.Tidak lupa juga saya harus melakukan telepon ke pelanggan saya sebagai bentuk after sales service dan customer satisfaction.
Nah untuk kedua hal tersebut diatas, apakah kita tidak perlu keluar uang juga ? Kalau dengan kondisi saya waktu itu, saya harus mengeluarkan modal sendiri untuk biaya komputer (surat-menyurat, internet, dll) dan telepon.
Dengan berjalannya waktu, dimana usaha sudah berjalan cukup lama, kita tetap akan menghadapi kebutuhan uang/modal sebagai bentuk dari rencana usaha (business planning)untuk tahun-tahun mendatang. Keahlian kita untuk dapat mengatur cashflow sangat dibutuhkan.
M.Zahir (Dikutip dari Milist Pengusaha Muslim )
Memulai bisnis harus memiliki modal tapi tidak harus berupa uang. Alhamdulillah saya memulai bisnis training provider tanpa uang …….
modal saya badan sehat, pikiran sehat dan mental saya sehat ….itu modalnya.
Saya pinjem laptop temen, ngeprint penawaran di tempat temen, alamat kantor pake alamat teman, No. Telp numpang teman, No Faks pake faks wartel….. Alhamdulillan sekarang sudah dibantu 5 orang tim. Client hampir semua BUMN dan Perusahaan Besar Nasional, Perbankan dll. Kami juga sudah membantu seorang teman yang kena PHK tanpa pesangon bisnis tas seminar tanpa modal uang.
Abu ( Dikutip dari Milist Pengusaha Muslim )
Bisnis tanpa modal, itu sangat dimungkinkan. Namun TETAP memerlukan modal ‘modal terselubung’.
Contoh bisnis ini banyak, namun yang paling umum di masyarakat adaah Makelar. InsyaAllah bisnis ini halal.
Modal terselubung yang diperlukan ada informasi penjual barang dan informasi calon pembeli.Nah, sekarang tinggal memilih bidang apa yang mau ‘dimakelarin’. Tanah? Mobil? Jasa? Terserah, tinggal disesuaikan dengan kemampuan yang kita punya.
Contoh yang gampang dalam bidang jasa (ini pernah saya alami saat saya mau merenovasi rumah), ada seseorang mendatangi rumah saya dan bertanya apa benar bapak akan merenovasi rumah? Kemudian dia menawarkan jasa renovasi. Ternyata : Dia hanya sebagai mando yang mengawasi pekerjaan agar sesuai dengan apa yang saya inginkan, dan yang bekerja merenovasi rumah adalah saudara-saudaranya dari kampung.
Khairul ( Dikutip dari Milist IYE! )
Di awal saya membangun usaha ini, saya juga tidak pake modal, “Uang“, karena saya pertama kali mengawali bisnis ini dari makelar, saya dapet pesanan dari customer, saya minta pembayaran lunas atau minimal DP, kmudian saya lempar ke rekanan Digital Printing yang lebih besar, kemudian selisihnya sebagai keuntungan saya, lambat laun usaha saya terus bertumbuh hingga ada investor yang invest mesin cetak pada saya, dan keuntungan-keuntungan saya terus saya putar untuk invest mesin, dll
Memang uang bukanlah yang utama, modal yang paling penting di awal adalah KEBERANIAN untk memulai dan ACTION, bisnis kita sempurnakan sambil jalan, modal kepercayaan, kredibiitas, kejujuran, adalah modal yang tidak terlihat namun dampaknya sangat besar, meskipun tanpa modal “uang” di awal, namun tetap saja kami membutuhkan alat operasional seperti HP, sepeda motor, flashdisk dll, namun itu pling tidak sdah sya punya sblm usaha..
Christopher Emille Jayanata (Dikutip dari Milist IYE!)
Sedikit share, saya adalah salah satu contoh pengusaha yang memulai semuanya tanpa modal, atau uang. Memang kalau dibilang tanpa uang sepeser pun, ya kita harus realistis aja. Untuk makan dan untuk ongkos tentunya ada, tapi intinya bukan dengan modal tambahan dari kegiatan sehari-hari yang sudah ada.
Saya memulai ketika saya masih kuliah (ya kuliah perlu uang, ini saya kumpulkan dari uang hasil dagang tanaman bersama orang tua saya ketika mereka masih hidup, kalau mau melihat lagi ke akarnya). Usaha saya di bidang jasa design dan pembuatan taman.
Saya berkeliling dengan teman saya pakai angkot, dan ketika mendapatkan client pertama, kami mendesign sesuai dengan permintaan client, dan lalu mengajukan permohonan dana untuk uang muka.
Lalu kami kerja menggunakan uang muka, menagih lagi term kedua dan begitu seterusnya. Hingga perusahaan pertama saya itu kini berusia 19 tahun, nyaris 95% kami lakukan tanpa penambahan modal. Semuanya berasal dari uang muka client, dan sudah berjumlah kurang lebih 700 proyek di Indonesia.
Saya juga pernah memenangkan Best Students dari Pak Ciputra untuk thema yang sama, ‘Making Money without Money’.
Hambatan Kedua : Tidak Memiliki Waktu
Bekerja penuh waktu 8 sd 9 jam setiap hari, membesarkan keluarga, dan menikmati akhir pekan adalah waktu hidup yang umum ketika Anda menjadi karyawan atau PNS. Waktu adalah sumber daya yang dapat kita kontrol. Jika Anda akan menjadi pemilik bisnis yang sukses, menguasai waktu adalah kunci. Pebisnis pemula(startups) membutuhkan pengorbanan. Anda harus bersedia untuk melepaskan akhir pekan untuk membangun momentum.
Hambatan Ketiga : Tidak ada Manfaat
Mari kita hadapi itu, memutuskan untuk masuk ke dunia usaha tanpa manfaat bisa merasa seperti berjalan trapeze tanpa jaring pengaman. Hal ini menjadi lebih mudah bagi seorang pekerja muda yang lebih sehat untuk melupakan manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan. Manfaat kesehatan tetap menjadi perhatian utama. Pikirkan melalui keputusan Anda, apakah menggunakan perencanaan keuangan keluarga atau Rekening Tabungan Kesehatan sebagai pilihan.
Hambatan Keempat : Tidak ada Dukungan Keluarga
Hambatan ini cukup menantang karena keluarga berhadapan langsung dengan keberadaan Anda. Namun, semua itu dapat Anda atasi kalau Anda bisa menjelaskan bisnis tersebut dengan baik dan membangun rencana bisnis yang solid. Jika orang lain dapat melihat bagaimana Anda telah mengambil waktu untuk berpikir dan meminimalkan risiko, keluarga justru akan lebih mendukung.
Hambatan Kelima : Keberanian untuk Mengalahkan Rasa Takut
Galilah cukup dalam dan Anda akan sering menemukan alasan untuk tidak memulai bisnis adalah sebuah alasan. Hambatan terbesar untuk mengatasinya adalah diri Anda sendiri. Ketakutan hadir di semua pengusaha. Sebuah wawancara dengan Tony Magee, CEO Lagunitas Brewery, pada MyPrimeTime mengatakan ketakutan adalah motivationor kuat. Ketakutan mengendalikan dirinya setiap hari untuk berhasil. Ini adalah masalah belajar untuk menerima rasa takut sebagai pendamping Anda yang bisa Anda kalahkan.
Menjadi seorang pengusaha membutuhkan dedikasi, keberanian, dan sedikit rasa nyaman. Jutaan pemilik bisnis telah berhasil. Ambilah risiko saat ini dan bergabunglah dengan revolusi kewirausahaan.


